Masalah dalam Kelas dan Upaya Pemecahannya
A. Masalah
dalam Kelas dan Upaya Pemecahannya
1.
Latar
Belakang Masalah pada Manajemen Kelas
Suasana sekolah pada umumnya dan suasana kelas
pada khususnya merupakan modal penting bagi jernihnya pikiran untuk mengikuti
pelajaran. Oleh karena itu dibutuhkan suatu keadaaan yang menyenangkan demi
meningkatkan motivasi siswa untuk mengikuti kegiatan pelajaran, untuk
mengatasinya dibutuhkan manajemen kelas yaitu penanganan yang baik agar dalam
kegiatan belajar mengajar dapat berjalan dengan lancar dan tujuan yang telah
ditetapkan dapat tercapai. Kelas merupakan suatu tempat anak belajar untuk
mendapatkan ilmu, berinteraksi dengan teman serta pembentukan pribadi yang
baik. Kegiatan belajar siswa yang berada di sekolah diharapkan harus intens
untuk berada di kelas. Dalam lingkup kelas terdiri dari siswa yang dapat
ditinjau dari cara belajar mereka, karakter siswa, hubungan sosial,
kedisiplinan, tanggung jawab dalam proses belajar mengajar.
Guru sebagai pengelola kelas, dalam perannya, guru hendaknya mampu
mengelola kelas karena kelas merupakan lingkungan belajar serta merupakan suatu
aspek dari lingkungan sekolah yang perlu di organisasi. Lingkungan ini diatur
dan diawasi agar kegiatan - kegiatan belajar terarah kepada tujuan-tujuan
pendidikan. Salah satu manajemen kelas yang baik ialah menyediakan kesempatan
bagi siswa untuk sedikit demi sedikit mengurangi ketergantungannya kepada 2
guru sehingga mereka mampu membimbing kegiatannya sendiri, sebagai manajer,
guru hendaknya mampu memimpin kegiatan belajar yang efektif serta efisien
dengan hasil optimal. Menurut Popi Sopiatin (2010: 48). Ada beberapa hal yang
harus mendapatkan perhatian dalam upaya menciptakan manajemen kelas yang
efektif adalah sebagai berikut: 1.Memulai pelajaran tepat waktu 2.Menata Tempat
duduk yang tepat dengan cara menyelaraskan antara format dan jam pelajaran
3.Mengatasi gangguan dari luar 4.Menetapkan aturan dan prosedur dengan jelas
dan dapat di laksanakan dengan konsisten 5.Peralihan yang mulus antar segmen
pelajaran 6.Siswa yang berbicara pada saat proses belajar mengajar berlangsung
7.Pemberian pekerjaan rumah 8.Mempertahankan momentum selama pelajaran
9.Downtime, kelebihan waktu yang dimiliki oleh siswa pada saat melakukan tugas
- tugas dalam proses belajar mengajar. 10.Mengakhiri pelajaran Suasana kelas
yang kondusif dapat menghasilkan pembelajaran yang sebaik mungkin. Hasil
belajar yang baik akan membantu mengembangkan motivasi belajar. Keadaan
motivasi belajar yang baik mendorong siswa untuk menerima pelajaran dengan
baik, selain itu dapat mengembangkan 3 inisiatif (belajar sendiri). Mengajar
merupakan suatu perbuatan yang memerlukan tanggung jawab moral yang cukup
berat. Dalam upaya menciptakan manajemen kelas yang efektif tidak terlepas dari
bagaimana seorang guru mengelola perilaku siswa dalam proses belajar mengajar,
tidak dapat di pungkiri bahwa dalam suatu kelas terdapat beberapa karakter dan
kecerdasan siswa yang berbeda, dengan terdapatnya perbedaan - perbedaan
tersebut maka akan berpengaruh kepada proses belajar mengajar di dalam kelas.
Manajemen kelas bukanlah masalah yang berdiri sendiri namun terkait dengan
beberapa faktor. Permasalahan siswa merupakan masalah yang terkait langsung.
Dalam hal ini, karena manajemen kelas yang dilakukan guru tidak lain untuk
meningkatkan semangat belajar siswa. Keakraban guru dengan siswa, tingginya
kerja sama tercipta dalam bentuk interaksi. Adanya interaksi itu tentu saja
bergantung pada pendekatan yang dilakukan oleh guru terhadap siswanya.
Pendekatan bisa dilakukan dengan berbagai cara yaitu memberikan perhatian,
ancaman maupun kebebasan dll. Hal itu bisa dilakukan selama pelajaran
berlangsung agar kondisi kelas yang tenang dapat diciptakan. Selain pendekatan
yang harus dilakukan oleh guru dalam menjaga kondisi kelas agar tetap optimal
juga diperlukan adanya ketrampilan-keterampilan dalam mengelolanya dan
prinsip-prinsip manajemen yang harus dipahami oleh setiap guru yang
bersangkutan. Kemampuan dalam mengelola perilaku siswa merupakan kemampuan yang
sangat penting untuk 4 dimiliki oleh seorang guru karena terdapat hubungan yang
erat antara prestasi belajar siswa dengan perilakunya di sekolah prestasi yang
rendah sering menimbulkan perilaku buruk karena siswa merasa kecewa dengan
sekolahnya. Proses belajar mengajar erat sekali kaitannya dengan lingkungan
atau suasana dimana proses itu berlangsung. Meskipun prestasi belajar juga
dipengaruhi oleh banyak aspek seperti gaya belajar, fasilitas yang tersedia,
pengaruh iklim kelas masih sangat penting. Hal ini beralasan karena ketika para
peserta didik belajar di ruangan kelas, lingkungan kelas, baik itu lingkungan
fisik maupun non fisik kemungkinan mendukung mereka atau bahkan malah menganggu
mereka. Lingkungan fisik kelas sangat berpengaruh terhadap keberhasilan
pembelajaran. Lingkungan kelas yang kondusif, nyaman, menyenangkan, dan bersih
berperan penting dalam menunjang keefektifan belajar. Lingkungan juga akan
mempengaruhi mental siswa secara psikologis dalam menerima informasi dari guru
di dalam kelas. Bahkan, dengan menggunakan strategi dan metode tertentu siswa
dapat menerima stimulus dengan memanfaatkan lingkungan sekitar kelas untuk
membantu siswa mengejar prestasinya. Banyak hal yang dapat dilakukan dalam
sebuah kelas untuk memberikan kenyamanan kepada siswa, penyusunan meja dan
kursi yang memungkinkan siswa dapat menerima akses informasi dengan baik dan
merata, memberikan aroma tertentu yang membangkitkan semangat dan 5 motivasi,
menata bunga dan berbagai tumbuhan yang akan memberikan kesegaran, memilih
warna cat dinding yang sesuai dengan kebutuhan untuk sebuah ruang kelas,
memasang poster-poster yang berisikan kalimat-kalimat afirmasi yang
memungkinkan siswa termotivasi untuk menjadi seseorang yang berprestasi di
kelasnya. Beberapa hal pengaruh lingkungan fisik kelas terhadap hasil belajar
yaitu (1) pengaturan ruangan, kursi dan meja, (2) pemasangan poster ikon, (3)
pemasangan poster afirmasi (4) pemberian dan penataan bunga di kelas.
(Darmasyah, 2010: 34). Lingkungan kelas memberikan dampak yang cukup baik
terhadap hasil belajar. Karena itu, faktor-faktor yang mendukung terciptanya
kondisi fisik yang kondusif terhadap pelaksanaan pembelajaran perlu mendapat
perhatian serius, terutama bagi para guru yang terlibat langsung.
B. Kebijakan
Penanganan Masalah Dalam Kelas
Belajar
adalah salah satu aktifitas siswa yang terjadi di dalam lingkungan belajar.
Belajar di peroleh melalui lembaga pendidikan formal dan non formal. Salah satu
lembaga pendidikan formal yg umum di indonesia yaitu sekolah dimana di dalamnya
terjadi kegiatan belajar dan mengajar yang melibatkan interaksi antara guru dan
siswa. Kegiatan belajar mengajar tersebut terjadi di dalam kelas. Tujuan
belajar siswa sendiri adalah untuk mencapai atau memperoleh pengetahuan yang
tercantum melalui hasil belajar yang optimal sesuai dengan kecerdasan intelektual.
Kegiatan guru didalam
kelas meliputi dua hal pokok, yaitu mengajar dan mengelola kelas. Kegiatan
mengajar dimaksudkan secara langsung menggiatkan siswa mencapai tujuan-tujuan
seperti menelaah kebutuhan-kebutuhan siswa, menyusun rencana pelajaran,
menyajikan bahan pelajaran kepada siswa, mengajukan pertanyaan kepada siswa,
menilai kemajuan siswa adalah contoh-contoh kegiatan mengajar. Kegiatan
mengelola kelas bermaksud menciptakan dan mempertahankan suasana (kondisi)
kelas agar kegiatan mengajar itu dapat berlangsung secara efektif dan efisien.
Guru-guru harus mampu
membedakan kedua permasalahan itu dan menemukan pemecahannya secara tepat. Amat
sering terjadi guru-guru menangani masalah yang bersifat pengajaran dengan
pemecahan yang bersifat pengelolaan dan sebaliknya. Misalnya, seorang guru
berusaha membuat penyajian pelajaran lebih menarik agar siswa yang sering tidak
masuk menjadi lebih tertarik untuk menghadiri pelajaran itu, padahal siswa
tersebut tidak senang berada di kelas itu karena dia merasa tidak diterima oleh
kawan-kawannya. Pemecahan seperti ini tentu saja tidak tepat. “Membuat
pelajaran lebih menarik” adalah permasalahan pengajaran, sedangkan “diterima
atau tidak diterima oleh kawan” adalahpermasalahan pengelolaan
Untuk
dapat menangani masalah-masalah pengelolaan kelas secara efektif guru harusmampu:
1.
Mengenali secara tepat berbagai
jenis masalah pengelolaan kelas baik yang bersifat perorangan maupun kelompo
2.
Memahami pendekatan mana yang cocok
dan tidak cocok untuk jenis masalah tertentu.
3.
Memilih dan menetapkan pendekatan
yang paling tepat untuk memecahkan masalah yang dimaksud.
C. macam
macam permasalahn dalam manajemen kelas
Ada dua macam masalah pengelolaan kelas, yaitu yang bersifat perorangan
atau individual dan yang bersifat kelompok. Disadari bahwa masalah perorangan
atau individual dan masalah kelompok seringkali menyatu dan amat sukar
dipisahkan yang satu dari yang lain.
Masalah
pengelolaan kelas tersebut, yaitu :
1)
Masalah Individual :
Penggolongan masalah individual ini didasarkan atas anggapan dasar bahwa
tingkah laku manusia itu mengarah pada pencapaian suatu tujuan. Setiap individu
memiliki kebutuhan dasar untuk memiliki dan untuk merasa dirinya berguna. Jika
seorang individu gagal mengembangkan rasa memiliki dan rasa dirinya berharga
maka dia akan bertingkah laku menyimpang. Ada empat jenis penyimpangan tingkah
laku, yaitu tingkah laku menarik perhatian orang lain, mencari kekuasaan,
menuntut balas dan memperlihatkan ketidakmampuan. Keempat tingkah laku ini
diurutkan makin lama makin berat. Misalnya, seorang anak yang gagal menarik
perhatian orang lain boleh jadi menjadi anak yang mengejar kekuasaan.
a)
Attention getting behaviors (pola
perilaku mencari perhatian).
Seorang siswa yang gagal menemukan kedudukan dirinya secara wajar dalam
suasana hubungan sosial yang saling menerima biasanya (secara aktif ataupun
pasif) bertingkah laku mencari perhatian orang lain. Tingkah laku destruktif
pencari perhatian yang aktif dapat dijumpai pada anak-anak yang suka pamer,
melawak(memperolok), membuat onar, memperlihatkan kenakalan, terus menerus
bertanya; singkatnya, tukang rewel. Tingkah laku destruktif pencari perhatian
yang pasif dapat dijumpai pada anak-anak yang malas atau anak-anak yang terus
meminta bantuan orang lain.
b)
Power seeking behaviors (pola
perilaku menunjukkan kekuatan/kekuasaan)
Tingkah laku mencari kekuasaan sama dengan perhatian yang destruktif,
tetapi lebih mendalam. Pencari kekuasaan yang aktif suka mendekat, berbohong,
menampilkan adanya pertentangan pendapat, tidak mau melakukan yang
diperintahkan orang lain dan menunjukkan sikap tidak patuh secara terbuka.
Pencari kekuasaan yang pasif tampak pada anak-anak yang amat menonjolkan
kemalasannya sehingga tidak melakukan apa-apa sama sekali. Anak-anak ini amat
pelupa, keras kepala, dan secara pasif memperlihatkan ketidakpatuhan.
c)
Revenge seeking behaviors (pola
perilaku menunjukkan balas dendam).
Siswa yang menuntut balas mengalami frustasi yang amat dalam dan tidak
menyadari bahwa dia sebenarnya mencari sukses dengan jalan menyakiti orang
lain. Keganasan, penyerangan secara fisik (mencakar, menggigit, menendang)
terhadap sesama siswa, petugas atau pengusaha, ataupun terhadap binatang sering
dilakukan anak-anak ini. Anak-anak seperti ini akan merasa sakit kalau
dikalahkan, dan mereka bukan pemain-pemain yang baik (misalnya dalam
pertandingan). Anak-anak yang suka menuntut balas ini biasanya lebih suka
bertindak secara aktif daripada pasif. Anak-anak penuntut balas yang aktif
sering dikenal sebagai anak-anak yang ganas dan kejam, sedang yang pasif
dikenal sebagai anak-anak pencemberut dan tidak patuh (suka menetang).
d)
Helplessness (peragaan ketidakmampuan).
Siswa yang memperlihatkan ketidakmampuan pada dasarnya merasa amat tidak
mampu berusaha mencari sesuatu yang dikehendakinya (yaitu rasa memiliki) yang
bersikap menyerah terhadap tantangan yang menghadangnya; bahkan siswa ini
menganggap bahwa yang ada dihadapannya hanyalah kegagalan yang terus menerus.
Perasaan tanpa harapan dan tidak tertolong lagi ini biasanya diikuti dengan
tingkah laku mengundurkan atau memencilkan diri. Sikap yang memperlihatkan
ketidakmampuan ini selalu berbentuk pasif.
2)
Masalah Kelompok :
Dikenal
adanya tujuh masalah kelompok dalam kaitannya dengan pengelolaan kelas:
- Kurangnya
kekompakan
Kurangnya kekompakan kelompok ditandai dengan adanya kekurang-cocokkan
(konflik) diantara para anggota kelompok. Konflik antara siswa-siswa dari
kelompok yang berjenis kelamin atau bersuku berbeda termasuk kedalam kategori
kekurang-kompakan ini. Dapat dibayangkan bahwa kelas yang siswa-siswa tidak
kompak akan beriklim tidak sehat yang diwarnai oleh adanya konflik, ketegangan
dan kekerasan. Siswa-siswa di kelas seperti ini akan merasa tidak senang dengan
kelompok kelasnya sehingga mereka tidak merasa tertarik dengan kelas yang
mereka duduki itu. Para siswa tidak saling bantu membantu.
- Kekurangmampuan
mengikuti peraturan kelompok
Jika suasana kelas menunjukkan bahwa siswa-siswa tidak mematuhi
aturan-aturan kelas yang telah ditetapkan, maka masalah yang kedua muncul,
yaitu kekurang-mampuan mengikuti peraturan kelompok. Contoh-contoh masalah ini
ialah berisik; bertingkah laku mengganggu padahal pada waktu itu semua siswa
diminta tenang; berbicara keras-keras atau mengganggu kawan padahal waktu itu
semua siswa diminta tenang bekerja di tempat duduknya masing-masing;
dorong-mendorong atau menyela waktu antri di kafetaria dan lain-lain.
- Reaksi
negatif terhadap sesama anggota kelompok
Reaksi negatif terhadap anggota kelompok terjadi apabila ekspresi yang
bersifat kasar yang dilontarkan terhadap anggota kelompok yang tidak diterima
oleh kelompok itu, anggota kelompok yang menyimpang dari aturan kelompok atau
anggota kelompok yang menghambat kegiatan kelompok. Anggota kelompok dianggap
“menyimpang” ini kemudian “dipaksa” oleh kelompok itu untuk mengikuti kemauan
kelompok.
- Penerimaan
kelas (kelompok) atas tingkah laku yang menyimpang.
Penerimaan kelompok (kelas) atas tingkah laku yang menyimpang terjadi
apabila kelompok itu mendorong timbulnya dan mendukung anggota kelompok yang
bertingkah laku menyimpang dari norma-norma sosial pada umumnya. Contoh yang
amat umum ialah perbuatan memperolok-olokan (memperlawakkan), misalnya membuat
gambar-gambar yang “lucu” tentang guru. Jika hal ini terjadi maka masalah
kelompok dan masalah perorangan telah berkembang dan masalah kelompok
kelihatannya lebih perlu mendapat perhatian.
- Kegiatan
anggota atau kelompok yang menyimpang dari ketentuan yang telah
ditetapkan, berhenti melakukan kegiatan atau hanya meniru-niru kegiatan
orang (anggota) lainnya saja.
Masalah kelompok anak timbul dari kelompok itu mudah terganggu dalam
kelancaran kegiatannya. Dalam hal ini kelompok itu mereaksi secara berlebihan
terhadap hal-hal yang sebenarnya tidak berarti atau bahkan memanfaatkan hal-hal
kecil untuk mengganggu kelancaran kegiatan kelompok itu. Contoh yang sering
terjadi ialah para siswa menolak untuk melakukan karena mereka beranggapan guru
tidak adil. Jika hal ini terjadi, maka suasana diwarnai oleh ketidaktentuan dan
kekhawatiran.
- Ketiadaan
semangat, tidak mau bekerja, dan tingkah laku agresif atau protes.
Masalah kelompok yang paling rumit ialah apabila kelompok itu melakukan
protes dan tidak mau melakukan kegiatan, baik hal itu dinyatakan secara terbuka
maupun terselubung. Permintaan penjelasan yang terus menerus tentang sesuatu
tugas, kehilangan pensil, lupa mengerjakan tugas rumah atau tugas itu
tertinggal di rumah, tidak dapat mengerjakan tugas karena gangguan keadaan
tertentu, dan lain-lain merupakan contoh-contoh protes atau keengganan bekerja.
Pada umumnya protes dan keengganan seperti itu disampaikan secara terselubung
dan penyampaian secara terbuka biasanya jarang terjadi.
- Ketidakmampuan
menyesuaikan diri terhadap perubahan lingkungan
Ketidak-mampuan menyesuaikan diri terhadap lingkungan terjadi apabila
kelompok (kelas) mereaksi secara tidak wajar terhadap peraturan baru atau
perubahan peraturan, pengertian keanggotaan kelompok, perubahan peraturan,
pengertian keanggotaan kelompok, perubahan jadwal kegiatan, pergantian guru dan
lain-lain. Apabila hal itu terjadi sebenarnya para siswa (anggota kelompok)
sedang mereaksi terhadap suatu ketegangan tertentu; mereka menganggap perubahan
yang terjadi itu sebagai ancaman terhadap keutuhan kelompok. Contoh yang paling
sering terjadi ialah tingkah laku yang tidak sedap pada siswa terhadap guru
pengganti, padahal biasanya kelas itu adalah kelas yang baik.
D. Solusi
dalam mengatasi masalah manajemen kelas
Untuk mengatasi masalah dalam pengelolaan kelas di atas, ada beberapa
pendekatan yang dapat dilakukan,diantaranya sebagai berikut:
a.
Behavior – Modification Approach (Behaviorism
Apparoach) : Asumsi yang mendasari penggunaan pendekatan ini adalah bahwa
perilaku “baik” dan “buruk” individu merupakan hasil belajar.Upaya memodifikasi
perilaku dalam mengelola kelas dilakukan melalui pemberian positive
reinforcement (untuk membina perilaku positif) dan negative
reinforcement (untuk mengurangi perilaku negatif). Namun demikian, dalam
penggunaan reinforcement negatif seyogyanya dilakukan secara hati-hati, karena
jika tidak tepat malah hanya akan menimbulkan masalah baru.
b.
Pendekatan Otoriter : Pandangan yang otoriter dalam
pengelolaan kelas merupakan seperangkat kegiatan guru untuk nienciptakan dan
mempertahankan ketertiban suasana kelas. Pengelolaan kelas sebagai proses untuk
mengontrol tingkah laku siswa ke arah disiplin. Bila timbul masalah-masalah
yang merusak ketertiban atau kedisplinan kelas, maka perlu adanya pendekatan:
1.
Perintah dan larangan
2.
Penekanan dan penguasaan
3.
Penghukuman dan pengancaman
4.
Pendekatan perintah dan larangan
c.
Pendekatan Permisif
Pendekatan yang primisif dalam
pengelolaan kelas merupakan seperangkat kegiatan pengajar yang memaksimalkan
kebebasan peserta didik untuk melakukan sesuatu.Sehingga bila kebebasan ini
dihalangi dapat menghambat perkembangan peserta didik. Berbagai bentuk
pendekatan dalam pelaksanaan pengelolaan kelas ini banyak menyerahkan segala
inisiatif dan tindakan pada diri peserta didik. Diantaranya yaitu sebagai
berikut:
1.
Tindakan pendekatan pengalihan merupakan
tindakan yang bersifat premisif. Daritindakan pendekatan ini muncul hal-hal
yang kurang disadari oleh peserta didik.
2.
Meremehkan sesuatu kejadian, atau tidak melakukan
apa-apa sama sekalI
3.
Memberi peluang kemalasan dan menunda pekerjaan.
4.
Menukar dan mengganti susunan kelompok tanpa melalui
prosedur yang sebenarnya.
5.
Menukar kegiatan salah satu pembelajar, digantikan
oleh orang lain.
6.
Mengalihkan tanggung jawab kelompok kepada seorang
anggota
d.
Pendekatan membiarkan dan memberi kebebasan
Sekali
lagi pengajar memandang peserta didik
telah mampu melakukan sesuatu dengan prosedur yang benar.“Biarlah mereka
bekerja sendiri dengan bebas”, demikian pegangan pengajar dalam mengelola
kelas.Lebih kurang menguntungkan lagi kalau selama peserta didik bekerja
sendiri, pengajar juga aktif mengerjakan tugas sendiri dan pada saat waktu
habis baru ditanyakan atau disusun.Percaya atau tidak bahwa hasil bekerja
peserta didik belum memadai dan kurang terarah Akibat yang sering terjadi
peserta didik merasa telah benar dengan tingkah laku dalam pengerjaan tugas,
telah bertanggung jawab dalam kelompok atau kelas itu.Tapi ternyata setelah
dibandingkan dengan kelompok lainnya kurang atau malahan lebih rendah.Kedua pendekatan
inipun kurang menguntungkan, tanpa kontrol dan pengajar bersikap serta
memandang ringan terhadap gejala-gejala yang muncul.Pihak pengajar dan peserta
didik tampak bebas, kurang memikat.
Untuk dapat
menangani masalah-masalah pengelolaan kelas secara efektif guru harus mampu:
- Mengenali
secara tepat berbagai jenis masalah pengelolaan kelas baik yang bersifat
perorangan maupun kelompok;
- Memahami
pendekatan mana yang cocok dan tidak cocok untuk jenis masalah tertentu.
- Memilih
dan menetapkan pendekatan yang paling tepat untuk memecahkan masalah yang
dimaksud.
Daftar
Pustaka
Arikunto dalam
Sulistyorini,2006.Manajemen Pendidikan Islam . (Surabaya:eLKAF,)
Djamarah, Syaiful Bahri. 2000. Guru dan Anak
Didik dalam Interaksi Edukatif. Jakarta: Rineka Cipta.
H.Syafruddin nurdin, Adriantoni.2019.Profesi Keguruan. PT Raja. Depok: Rajawali pers.
Rachman, Maman. 1998. Manajemen Kelas.
Jakarta: Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan
Tinggi.
file:///C:/Users/acer/Downloads/21-40-1-SM.pdf
Terimakasih kak , sangat bermanfaat dan membantu
BalasHapusGood👍
BalasHapusGood job ya
BalasHapusSangat bermanfaat kak, semoga bisa diterapkan dilapangan nantinya
BalasHapusBermanfaat sekali kak
BalasHapusSangat bermanfaat
BalasHapusTerimakasih. Sangat bermanfaat sekali.
BalasHapusSangat membantu kak
BalasHapussangat membantu
BalasHapusMaterinya bagus
BalasHapusSangat bermanfaat
BalasHapusTerima kasih materinya
BalasHapus